Hubungan Self-Compassion dengan Resiliensi Mahasiswa Praktik Klinik Keperawatan
Abstrak
Latar belakang: Mahasiswa keperawatan yang menjalani praktik klinik menghadapi tantangan berat (jam kerja, tekanan akademik, pengalaman emosional dengan pasien) yang memerlukan resiliensi tinggi. Self-compassion (Neff, 2003) sebagai mekanisme protektif diketahui meningkatkan resiliensi. Tujuan: menganalisis hubungan self-compassion dengan resiliensi mahasiswa praktik klinik. Metode: Cross-sectional pada 124 mahasiswa semester V-VI AKPER YUKI yang sedang praktik klinik dengan total sampling. Variabel: Self-Compassion Scale-Short Form (SCS-SF) dan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC-25). Analisis Pearson correlation dan multiple regression. Hasil: Self-compassion rata-rata 3,4 (rendah-sedang) dan resiliensi 68,4 (sedang). Korelasi positif kuat (r=0,624, p<0,001). Subscale self-kindness berkorelasi paling kuat (r=0,612), diikuti common humanity (0,548) dan mindfulness (0,486). Setelah kontrol confounding (gender, IPK, sosioekonomi), self-compassion tetap prediktor signifikan (β=0,52, p<0,001). Kesimpulan: Self-compassion berhubungan kuat dengan resiliensi mahasiswa keperawatan praktik klinik. Intervensi self-compassion training direkomendasikan dalam kurikulum pendidikan.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2030 Jurnal Keperawatan YUKI

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.